Pages

Cerita Tentang Satu Cuaca

19.1.18



"Dalam beberapa kasus, awalan adalah akhiran. Bagaimana sesuatu dimulai, seperti itu pula sesuatu itu berhenti."


Embuh, yo. :p


Saat itu hujan turun, dan tentu matahari meredup. Bersamaan dengan angin, dan gelap langitnya. Para hijau, tumbang.  Suhu, menurun. Terlalu dingin memang, untuk sebuah September yang biasanya indah, dan 2 bulan sebelumnya. Singkat cerita aku ingin menyudahi “cuaca buruk” itu. Harus kilat. Harus segera reda, dan langit harus menerang lagi.

               Bersamaan dengan harapan itu, muncul pula beberapa warna indah akhir-akhir itu. Seperti pertanda berganti cuaca. Tapi, aku ragu. Aku seperti pernah melihat warna ini sebelumnya. Biasan cahaya yang menawan, paket lengkap dengan kedatangannya yang terkesan ajaib. Sangat menenangkan. Dulu, yang melihatnya bagai anak kecil yang diberi permen saat ia menangis. Sangat memenuhi janji bahwa akan ada yang indah selepas hujan. Banyak manusia memuji kehadirannya, begitupun aku, dalam hati. Tapi dulu, tak lama kemudian hilang, lenyap, karena ternyata ia punya batas waktunya sendiri.

Lalu yang aku lihat di akhir mendung itu? Apakah ia akan sama?

Begitu pertanyaanku saat itu.

Pada semesta.

Aku menjawabnya sendiri, dari petunjuk yang ditunjukkan semesta. Ya, ia hanya sama dengan warna indah yang pernah aku lihat sebelumnya. Yang artinya, ia juga punya kadaluarsa.

Hatiku mencegah agar aku tak lagi kagum dengan keindahan semacam itu. Sudah pernah, jangan. Aku meyakinkan. Di sisi lain, cahaya-cahaya nan indah itu menawarkan warna baru, bukankah itu yang aku butuhkan untuk menyudahi cuaca buruk itu?

Cahaya indah, yang waktu itu seharusnya kuanggap asing itu, pun seperti meracuniku untuk berfikir yang baik-baik tentangnya. “Harus khusnudzon ”, katanya. Iya, itu teori dan mantra yang sangat tepat.

Dan benar, lho.

Sepertinya aku sempat  terbius pada keindahannya. Warna-warnanya. Dan yang terpenting, hujan juga reda. Walau masih dingin angin meniup. Aku ikuti saja setiap pertunjukan indah yang cahaya itu tampilkan. Memang, cantik. Cukup memukau. Timbul rasa kagumku, berbarengan dengan keraguanku yang masih ada dan ternyata, terus tumbuh.  

Bukan aku namanya kalau tidak nekat.

Seperti sudah tahu akan batuk, tetap minum es.

Sudah tahu akan pergi, masih saja diikuti.

Yaaaaaaaaa, seperti yang sudah di awal aku kira, seperti yang sudah pembaca tebak.. cahaya itu memang akhirnya menghilang. Waktunya sudah habis bersamaan dengan Jepang yang mungkin mulai dingin karena dituruni salju. Mungkin tugasnya sudah selesai, atau memang ada beberapa tujuan yang sudah tercapai. Lenyapnya meninggalkan tanya, yang suatu saat nanti kusadari; sangat tidak penting untuk dijawab.

Dia sangat mulia, langit yang tadinya mendung dilukisnya menjadi pemandangan indah yang.. bagaimana kalau sebut saja pelangi? Seperti judul lagu, ya? Tujuan yang baik memang. Tapi, salahkah aku kalau mengatakan bahwa caranya salah? Alih-alih memberi pemandangan indah setelah hujan, kepergiannya setelah itu justru membuat hujan lagi, dengan bencana. Lebih parah, kan?

Tapi ya sudah. Itu kan sudah berlalu.

Selain kerugian, banyak juga lho pelajaran yang disisakan oleh bencana. 

Tenang saja, semua sudah terkondisikan dengan baik, oleh orang-orang yang baik. :)

Sudah habis kata aku. Sudah hilang terluap waktu itu bersama aliran air sungai yang tingginya melebihi biasanya. Kutulis saja apa adanya sekarang, dengan intensitas angin yang apa adanya juga. Wkwkwkwk

Di belahan bumi lain, mungkin cahaya itu sedang memberi pertunjukan pada mendung lain. Menjadi ajaib lagi dengan hal indah setiap akhir hujan yang banyak diharapkan orang-orang. Juga dengan batas waktunya.  Dan mungkin akan pergi dan muncul lagi ke tempat lain saat waktunya habis.

Duh pelangi, tidakkah kamu memilih untuk berubah menjadi cahaya indah yang abadi saja, meski untuk entah siapapun nanti? Saranku, belajarlah untuk itu.. maka kamu akan menemukan kebahagiaan yang waktu itu kamu cari-cari, dengan sendirinya. Hahaha, jangan kaget begitu. Aku pernah menjadi pemberi standing applause dari penampilan menawanmu itu wahai pelangi, jadi aku mendalamimu. Aku tahu, kamu indah juga untuk bahagiamu sendiri, kan?

***

By the way, dont take it seriously. Untuk Januari semanis ini, dan blog yang terlalu usang hahaha aku hanya sedang ingin menulis apa yang aku pernah ingin tulis, serandom apapun, rajelas, dan.... sangat imaji sekali ya? Hehehe. Thanks sudah membaca.

Oh iya.. kalaupun dalam sehari-hari langit teman-teman benar sampai juga pada titik termendung, jangan hanya berharap pelangi, ya. Karena memang ada cahaya yang lebih nyata dan bukan hanya pembiasan, matahari misalnya. Iya kan? Ya walaupun matahari dan pelangi sama-sama punya batas waktu, sama-sama musiman, sih. Wkwkwkwkw....

2 komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS