"Dalam beberapa kasus, awalan adalah akhiran. Bagaimana sesuatu dimulai, seperti
itu pula sesuatu itu berhenti."
Embuh, yo. :p
Saat itu hujan turun, dan tentu
matahari meredup. Bersamaan dengan angin, dan gelap langitnya. Para hijau,
tumbang.Suhu, menurun. Terlalu dingin
memang, untuk sebuah September yang biasanya indah, dan 2 bulan sebelumnya.
Singkat cerita aku ingin menyudahi “cuaca buruk” itu. Harus kilat. Harus segera
reda, dan langit harus menerang lagi.
Bersamaan
dengan harapan itu, muncul pula beberapa warna indah akhir-akhir itu. Seperti
pertanda berganti cuaca. Tapi, aku ragu. Aku seperti pernah melihat warna ini
sebelumnya. Biasan cahaya yang menawan, paket lengkap dengan kedatangannya yang
terkesan ajaib. Sangat menenangkan. Dulu, yang melihatnya bagai anak kecil yang
diberi permen saat ia menangis. Sangat memenuhi janji bahwa akan ada yang indah
selepas hujan. Banyak manusia memuji kehadirannya, begitupun aku, dalam hati.
Tapi dulu, tak lama kemudian hilang, lenyap, karena ternyata ia punya batas
waktunya sendiri.
Lalu yang aku lihat di akhir mendung itu? Apakah ia akan
sama?
Begitu pertanyaanku saat itu.
Pada semesta.
Aku menjawabnya sendiri, dari petunjuk yang ditunjukkan
semesta. Ya, ia hanya sama dengan warna indah yang pernah aku lihat sebelumnya.
Yang artinya, ia juga punya kadaluarsa.
Hatiku mencegah agar aku tak lagi
kagum dengan keindahan semacam itu. Sudah
pernah, jangan. Aku meyakinkan. Di
sisi lain, cahaya-cahaya nan indah itu menawarkan warna baru, bukankah itu yang
aku butuhkan untuk menyudahi cuaca buruk itu?
Cahaya indah, yang waktu itu
seharusnya kuanggap asing itu, pun seperti meracuniku untuk berfikir yang
baik-baik tentangnya. “Harus khusnudzon ”,
katanya. Iya, itu teori dan mantra yang sangat tepat.
Dan benar, lho.
Sepertinya aku sempatterbius pada keindahannya. Warna-warnanya.
Dan yang terpenting, hujan juga reda. Walau masih dingin angin meniup. Aku
ikuti saja setiap pertunjukan indah yang cahaya itu tampilkan. Memang, cantik.
Cukup memukau. Timbul rasa kagumku, berbarengan dengan keraguanku yang masih
ada dan ternyata, terus tumbuh.
Bukan aku namanya kalau tidak
nekat.
Seperti sudah tahu akan batuk,
tetap minum es.
Sudah tahu akan pergi, masih saja
diikuti.
Yaaaaaaaaa, seperti yang sudah di
awal aku kira, seperti yang sudah pembaca tebak.. cahaya itu memang akhirnya
menghilang. Waktunya sudah habis bersamaan dengan Jepang yang mungkin mulai dingin
karena dituruni salju. Mungkin tugasnya sudah selesai, atau memang ada beberapa
tujuan yang sudah tercapai. Lenyapnya meninggalkan tanya, yang suatu saat nanti
kusadari; sangat tidak penting untuk dijawab.
Dia sangat mulia, langit yang
tadinya mendung dilukisnya menjadi pemandangan indah yang.. bagaimana kalau
sebut saja pelangi? Seperti judul lagu, ya? Tujuan yang baik memang. Tapi,
salahkah aku kalau mengatakan bahwa caranya salah? Alih-alih memberi
pemandangan indah setelah hujan, kepergiannya setelah itu justru membuat hujan
lagi, dengan bencana. Lebih parah, kan?
Tapi ya sudah. Itu kan sudah
berlalu.
Selain kerugian, banyak juga lho pelajaran yang disisakan oleh bencana.
Tenang saja, semua sudah
terkondisikan dengan baik, oleh orang-orang yang baik. :)
Sudah habis kata aku.
Sudah hilang terluap waktu itu bersama aliran air sungai yang tingginya
melebihi biasanya. Kutulis saja apa adanya sekarang, dengan intensitas angin
yang apa adanya juga. Wkwkwkwk
Di belahan bumi lain, mungkin
cahaya itu sedang memberi pertunjukan pada mendung lain. Menjadi ajaib lagi dengan
hal indah setiap akhir hujan yang banyak diharapkan orang-orang. Juga dengan
batas waktunya.Dan mungkin akan pergi
dan muncul lagi ke tempat lain saat waktunya habis.
Duh pelangi, tidakkah kamu
memilih untuk berubah menjadi cahaya indah yang abadi saja, meski untuk entah
siapapun nanti? Saranku, belajarlah untuk itu.. maka kamu akan menemukan
kebahagiaan yang waktu itu kamu cari-cari, dengan sendirinya. Hahaha, jangan
kaget begitu. Aku pernah menjadi pemberi standing
applause dari penampilan menawanmu itu wahai pelangi, jadi aku mendalamimu.
Aku tahu, kamu indah juga untuk bahagiamu sendiri, kan?
***
By the way, dont take it seriously. Untuk Januari semanis ini, dan blog yang terlalu usang hahaha aku hanya
sedang ingin menulis apa yang aku pernah ingin tulis, serandom apapun, rajelas, dan.... sangat imaji sekali ya?
Hehehe. Thanks sudah membaca.
Oh iya.. kalaupun dalam
sehari-hari langit teman-teman benar sampai juga pada titik termendung, jangan hanya
berharap pelangi, ya. Karena memang ada cahaya yang lebih nyata dan bukan hanya
pembiasan, matahari misalnya. Iya kan? Ya walaupun matahari dan pelangi
sama-sama punya batas waktu, sama-sama musiman, sih. Wkwkwkwkw....
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus