Pages

Unconsciousness

21.4.16


Unconsciousness one  




***

Siang ini aku terbawa angin. Mereka berhembus lembut beriringan namun pasti ke suatu arah. Dengan langkah sedikit ragu aku mengekor angin-angin itu. Tak kutanggalkan sweater dari tubuhku untuk melindungiku dari mereka.

Sudah satu jam aku mengikuti mereka. Tak kudapati jawaban dari pertanyaanku. Mau kemana mereka? Mereka terus menuntunku pada entah apa. Membuat aku melaju. Semakin kencang. Pada satu arah.

Aku takut namun mereka bilang aku harus tahu.

Tunggu..

Jadi mereka akan memberitahuku sesuatu?

Aku semakin bersemangat melanjutkan perjalananku. Hanya ingin tahu, apa maksud angin-angin itu. Belum lama aku menambah kecepatanku, warna langit berubah. Disertai suara gemuruh yang berdatangan dari berbagai penjuru.

Langkahku mereda. Seolah tau maksudku, salah satu angin bilang, aku tetap harus berjalan. Tanpa penolakan. Oke, dan kurasa aku tak punya kuasa untuk itu. Tak lama, bersama dengan gemuruh. Kumpulan air datang menyiramku.

Dingin.

Aku sempat ingin menyerah, aku bilang nanti kita sakit. Tetapi mereka bilang, aku tak akan sakit hanya karena air. Aku boleh tenang karena mereka bilang mereka menjagaku. Angin-angin itu tak akan membiarkanku sakit.

Pada jarak yang jauh dari langkah pertama, aku mulai mendapati suasana berbeda. Angin-angin itu membisikkan sesuatu padaku. Berusaha aku mendengarnya. Namun tak berhasil aku menangkap perkataannya. Aku dibuat bingung.

Samar-samar kudengar suara memilukan. Bukan suara angin. Aku mengenalinya. Sangat mengenalinya.

Tapi mustahil..

Sosok segarang itu tak mungkin menangis. Di tempat seperti ini bahkan.

Aku mendekat.

Benar saja.. Tubuh kecilnya mulai dapat terlihat dibalik kepulan asap yang angin bilang tak akan membuatku batuk.

"Keenan? Sedang apa kau di sini?" Aku segera menyapanya.

Sontak sosok itu menoleh ke arahku. Ia mengerutkan keningnya. Lalu membelalakkan mata sayunya. Seperti mendapat keajaiban melihat aku di sini. Matanya yang ternyata bengkak melihat bergantian ke wajahku, dan atasku, dan sampingku, dan sekelilingku.

"Tolong jangan hukum aku lagi, aku akan menuruti perintah kalian segera." Katanya ke entah apa, entah siapa. Tak kulihat siapapun di sini selain aku dan Keenan. Juga angin-angin itu.

"Apa maksudmu, Nan?"

Tanpa menjawab, Keenan segera mendekat ke arahku. Membuka telapak tangan di depannya. Ke arahku. Bersalaman?

Aku diam. Begitupun ia. Sampai sekarang Keenan memang belum mau kenal lagi denganku, oleh karenanya ia tak pernah bicara banyak denganku. Tapi ia mengajakku bersalaman, ajaib.

Kini aku yang bingung. Kupandangi kakinya yang tak jenjang. Lalu kaos hitamnya yang sangat aku kenal desainnya. Kurayapkan tatapan anehku pada seluruh bagiannya. Wajahnya memaling ke samping seperti tak mau melihat. Apa? Tak mau melihatku? Terserah karena aku tak akan mau membalas tangannya kalau ia bahkan tak melihatku.

Tapi aku penasaran. Kumiringkan kepalaku sedikit untuk melihat wajahnya. Wajah Keenan. Dan apa yang terjadi sungguh diluar perkiraanku. Butiran-butiran air terus terjun dari mata emeraldnya. Sadar kalau aku melihatnya, ia segera mengusap air matanya. Dengan tangan yang sudah lima menit tak mendapat jawaban.

"Tolong, hanya ini yang bisa membawaku kembali." Katanya parau sambil menyodorkan tangannya kembali, ke arahku.

***

"Kau lagi? Apa maksudmu? Bahkan aku tak mengenalmu. Bisa-bisanya kau mengatakan hal semacam itu. Kau sadar? Kau banyak menghancurkan hidupku. Kau tahu? Aku tak mengenalmu tapi kau sudah membuatku banyak membencimu. Orang yang sama sekali tak kuketahui."

Otakku seperti memutarkan adegan-adegan gila itu. Dan aku berhasil mengingatnya. Di mana aku datang menghampirinya pada suatu siang saat pulang sekolah. Waktu itu ia sedang berada di lapangan parkir, mengambil sepeda kesayangannya. Dengan berani aku mengucapkannya hingga siang itu berakhir dengan titikan air mataku.

"Happy birthday Keenan" Kataku waktu itu sambil menyodorkan tanganku. Yang kemudian diacuhkan olehnya. Sampai ia memakiku seperti itu. Aku heran terus kenapa Keenan seperti itu.

Keenan memang sangat membenciku. Ia selalu berfikir kalau tindakanku diluar batas.

Katanya, aku membuatnya enggan keluar dan itu mengakibatkan kelaparan. Ia bilang itu salahku. Katanya kalau ia keluar membeli makanan, ia akan bertemu denganku dan ia terganggu dengan itu.

Ia bilang aku sengaja berada di sekitarku. Katanya aku selalu muncul di setiap ia ada. Di kantin, di mading, di depan ruang kelas, di perpustakaan, di rumahnya bahkan. Di manapun. Keenan menuduh aku sengaja melakukannya.

Katanya, ia kehilangan kesempatan untuk menjadi kapten di team basket sekolahnya. Ia bilang itu semua gara-gara aku. Keenan menganggap kalau saja ia menduduki posisi itu pasti akan ada orang gila di barisan paling depan yang nantinya pasti selalu hadir di setiap pertandingannya. Dan itu akan mengganggu Keenan.

Katanya, ia tak pernah mendapatkan hati dari gadis pujaannya, dan lagi-lagi ia menyalahkanku. Ia bilang ia tak pernah mendapatkan balasan karena aku mengejar-ngejar Keenan. Ia bilang aku tak boleh menyukai Keenan, karena Keenan tak menyukaiku. Keenan menganggap, ia terkena karma. Gadis kesukaannya tak sedikitpun membalas perasaannya karena Keenan tak membalas perasaanku. Maka dari itu Keenan memaksaku melupakan rasaku ke Keenan, ia bilang, ia akan terhindar dari karma jika aku tak menyukai Keenan.

Dari situ aku mulai berfikir. Keenan bisa saja tidak waras. Mana bisa aku tak ada di setiapnya ada, kalau aku satu sekolah dengannya. Selalu satu kelas. Dari dulu hingga saat itu.

Mana bisa juga aku tak selalu ada tiap team basket impiannya sedang bertanding, aku ini Raisa, gadis garda depan team cheerleaders sekolahnya. Mana bisa aku tak ada bahkan di dekat rumahnya. Apa Keenan sungguh lupa, jarak rumahku ke rumah Keenan bahkan hanya dua rumah.

Dan yang terakhir ini seperti lelucon. Mana bisa Keenan menyuruhku untuk menghentikan rasaku ke Keenan? Rasa yang mana? Keenan gila untuk menuduhku menyukainya. Ya, kuakui memang aku sering berada di sekitar Keenan. Tapi apa Keenan buta untuk melihat, dengan siapa aku setiap bertemu dengannya.

Lalu bagaimana bisa Keenan memvonis dirinya kalau ia terkena karma, karena akupun tak seperti yang ia tuduhkan. Aku sama sekali tak memendam rasa seperti yang Keenan bilang. Meski ia tak menganggap, tapi aku ini masih temannya, tak lebih. Sampai sekarang aku tak mau berfikiran macam-macam pada temanku, termasuk mengharapkannya.

Ku kira, dia mempunyai masalah dengan kejiwaanya, terkhusus pada hal kepercayaan dirinya.

***

"Tapi Nan, bukankah kau bilang tanganmu akan alergi bahkan hanya dalam satu detik saja bila bersentuhan  denganku?" Kataku menyelidik. Sama sekali tak menggubris sodoran tangannya.

Gemuruh petir datang mengelilingi tempat misterius ini. Kupikir akan hujan lagi. Tapi tidak, hanya sekelompok angin datang lagi. Angin yang tadi. Fikirku.

Anehnya, kali ini mereka datang dengan formasi yang berbeda. Melingkar berputar kencang di satu pusat, seperti....

Tanpa sadar aku sudah ada di pusaran angin-angin itu bersamaan dengan teriakkan Keenan.

"Ra.. Mau ke mana kau? Jangan tinggalkan aku sendiri Ra. Ini kesempatanku yang terakhir Ra."

Aku terbang.

Dia terus berteriak. Makin lama-makin sayup karena jarak aku dan Keenan tak lagi dekat.

"Ra tolong Ra."

Makin lama suara Keenan makin tak terdengar. Aku bilang pada angin aku ingin menolongnya. Angin bilang mereka sudah memberi kesempatan pada  aku dan Keenan. Dan sekarang waktu kami habis.

"Raisaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"

Terlihat kecil, Keenan melompat-lompat. Tangannya terus melambai, mengayun, seperti meraih sesuatu. Mungkin mau meraihku kembali. Kata angin, tak akan bisa, Nan.

***

"Sepertinya, kau tak mau sedetikpun berpisah dengan Mbak Raisa ya, Mas? Kulihat sejak hari pertama kau terus mengikutinya. Hehe." Kata Pevita pada sosok berpelampung merah yang sedari tadi duduk di geladak.

"Biasa saja." Jawabnya terkekeh. Lalu membalikkan badan, membelakangi laut, membaur kembali bersama aku dan yang lain.

Pagi itu, aku kembali berada di belakang barisan para tim SAR. Kali ini dengan beberapa kapal kecil kami akan menuju ke pulau kecil di seberang sana, sesuai saran Pevita. Lebih tepatnya, sesuai mimpi Pevita.

Jadi, Keenan tak hanya datang di mimpiku? Ia datang juga di mimpi adiknya. Jangan-jangan ia datang juga di mimpi ibunya, ayahnya, kakaknya, dan siapapun. Sepertinya ia memang butuh pertolongan.

Yang pasti, ia datang juga di mimpi teman-temannya bahkan gadis kesukaannya itu, karena hari ini kulihat mereka sampai datang turut serta dengan kami. Ke tempat perkiraan kami yang terakhir. Harapan terakhir kami bisa menemukan Keenan kembali.

Ya, hari ini hari ke-lima sejak aku, dan yang lainnya menyusuri sungai, hingga berujung pada laut ini. Laut pun sudah diselami oleh tim SAR, untuk kemungkinan terburuk.

Tak didapati Keenan di sungai, di laut.

Kasian Keenan, lama sudah mungkin dia berkubang dalam air. Ibunya terus-terusan menyesalkan mengapa beliau tak memaksa Keenan untuk ikut dengan rombonganku, rombongan yang terakhir dievakuasi saat hujan deras mengguyur pemukiman kami. Pemukiman dengan resiko parah oleh luapan air sungai di ujung pemukiman kami yang waktu itu sudah berada pada level paling membahayakan.

Mungkin Keenan tak mau bergabung denganku. Hingga akhirnya ia terpaksa merelakkan tubuh mungilnya terbawa air bah yang datang tiba-tiba. Yang aku ingat, saat meninggalkan ia sendiri di rumahnya, pelampung warna biru masih setia menempel di badannya.

Harapanku satu, semoga Keenan baik-baik saja.

Di pulau kecil itu kami berhenti. Mulai beraksi. Mencari Keenan.

Pulau ini. Tempat ini. Aku benar-benar mengenali. Tempat semalamkah?

Lalu di mana Keenan?

Angin-angin itu lagi. Mereka datang lagi. Kami semua ketakutan. Mereka mengerikan. Angin itu kembali membentuk pusaran. Membangunkan trauma oleh peristiwaku semalam.

Angin itu menggugurkan daun-daun. Menumbangkan salah satu pohon. Menimbulkan kepulan asap dari tanah-tanah yang berterbangan.

Dari balik kalutnya suasana saat itu, kulihat sesuatu jatuh bersama pohon yang tumbang. Manusia. Ia tergeletak tak berdaya.  

Benar.
Mimpiku, mimpi Pevita, dan mungkin saja mimpi-mimpi banyak orang,  benar.

Di depanku kini, ia tergolek lemah. Bonyok. Pucat. Layu. Mungkin ini sudah kelaparan, kesakitan, kedinginan, dan kehancuran Keenan yang kesekian kalinya akibat ulahku.

Keenan..
Temanku, sadarlah.

***

Di bawah merekahnya sinar mentari, kami naiki sepeda kami masing-masing. Aku dan Keenan berlomba-lomba untuk lebih dulu sampai ke sekolah layaknya anak kecil. Sudah lama aku tak sebahagia ini, bersama temanku yang satu ini.

Sungguh, enam tahun dimusuhi tanpa alasan oleh Keenan benar-benar memicu kehilangan-kehilanganku yang lainnya. Sekarang, semoga aku dan Keenan akan benar-benar kembali seperti dulu, bersahabat kembali seperti belasan tahun lalu, mewujudkan mimpi bersama-sama lagi.

"Ra, aku minta maaf untuk semua kesalahanku."

"Iya Nan. Aku yang harus lebih banyak minta maaf padamu."

Dua kelingking kami saling bertautan.
Dalam hati aku berjanji, untuk terus menjaga Keenan, melindunginya. Tak akan kubiarkan angin-angin itu menghukum Keenan lagi, mengadu kami seperti waktu itu.

Tetapi terimakasih angin, sekarang aku sudah sadar, begitupun Keenan.

***

7 komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS