Pages

Cerita Tentang Satu Cuaca

19.1.18



"Dalam beberapa kasus, awalan adalah akhiran. Bagaimana sesuatu dimulai, seperti itu pula sesuatu itu berhenti."


Embuh, yo. :p


Saat itu hujan turun, dan tentu matahari meredup. Bersamaan dengan angin, dan gelap langitnya. Para hijau, tumbang.  Suhu, menurun. Terlalu dingin memang, untuk sebuah September yang biasanya indah, dan 2 bulan sebelumnya. Singkat cerita aku ingin menyudahi “cuaca buruk” itu. Harus kilat. Harus segera reda, dan langit harus menerang lagi.

               Bersamaan dengan harapan itu, muncul pula beberapa warna indah akhir-akhir itu. Seperti pertanda berganti cuaca. Tapi, aku ragu. Aku seperti pernah melihat warna ini sebelumnya. Biasan cahaya yang menawan, paket lengkap dengan kedatangannya yang terkesan ajaib. Sangat menenangkan. Dulu, yang melihatnya bagai anak kecil yang diberi permen saat ia menangis. Sangat memenuhi janji bahwa akan ada yang indah selepas hujan. Banyak manusia memuji kehadirannya, begitupun aku, dalam hati. Tapi dulu, tak lama kemudian hilang, lenyap, karena ternyata ia punya batas waktunya sendiri.

Lalu yang aku lihat di akhir mendung itu? Apakah ia akan sama?

Begitu pertanyaanku saat itu.

Pada semesta.

Aku menjawabnya sendiri, dari petunjuk yang ditunjukkan semesta. Ya, ia hanya sama dengan warna indah yang pernah aku lihat sebelumnya. Yang artinya, ia juga punya kadaluarsa.

Hatiku mencegah agar aku tak lagi kagum dengan keindahan semacam itu. Sudah pernah, jangan. Aku meyakinkan. Di sisi lain, cahaya-cahaya nan indah itu menawarkan warna baru, bukankah itu yang aku butuhkan untuk menyudahi cuaca buruk itu?

Cahaya indah, yang waktu itu seharusnya kuanggap asing itu, pun seperti meracuniku untuk berfikir yang baik-baik tentangnya. “Harus khusnudzon ”, katanya. Iya, itu teori dan mantra yang sangat tepat.

Dan benar, lho.

Sepertinya aku sempat  terbius pada keindahannya. Warna-warnanya. Dan yang terpenting, hujan juga reda. Walau masih dingin angin meniup. Aku ikuti saja setiap pertunjukan indah yang cahaya itu tampilkan. Memang, cantik. Cukup memukau. Timbul rasa kagumku, berbarengan dengan keraguanku yang masih ada dan ternyata, terus tumbuh.  

Bukan aku namanya kalau tidak nekat.

Seperti sudah tahu akan batuk, tetap minum es.

Sudah tahu akan pergi, masih saja diikuti.

Yaaaaaaaaa, seperti yang sudah di awal aku kira, seperti yang sudah pembaca tebak.. cahaya itu memang akhirnya menghilang. Waktunya sudah habis bersamaan dengan Jepang yang mungkin mulai dingin karena dituruni salju. Mungkin tugasnya sudah selesai, atau memang ada beberapa tujuan yang sudah tercapai. Lenyapnya meninggalkan tanya, yang suatu saat nanti kusadari; sangat tidak penting untuk dijawab.

Dia sangat mulia, langit yang tadinya mendung dilukisnya menjadi pemandangan indah yang.. bagaimana kalau sebut saja pelangi? Seperti judul lagu, ya? Tujuan yang baik memang. Tapi, salahkah aku kalau mengatakan bahwa caranya salah? Alih-alih memberi pemandangan indah setelah hujan, kepergiannya setelah itu justru membuat hujan lagi, dengan bencana. Lebih parah, kan?

Tapi ya sudah. Itu kan sudah berlalu.

Selain kerugian, banyak juga lho pelajaran yang disisakan oleh bencana. 

Tenang saja, semua sudah terkondisikan dengan baik, oleh orang-orang yang baik. :)

Sudah habis kata aku. Sudah hilang terluap waktu itu bersama aliran air sungai yang tingginya melebihi biasanya. Kutulis saja apa adanya sekarang, dengan intensitas angin yang apa adanya juga. Wkwkwkwk

Di belahan bumi lain, mungkin cahaya itu sedang memberi pertunjukan pada mendung lain. Menjadi ajaib lagi dengan hal indah setiap akhir hujan yang banyak diharapkan orang-orang. Juga dengan batas waktunya.  Dan mungkin akan pergi dan muncul lagi ke tempat lain saat waktunya habis.

Duh pelangi, tidakkah kamu memilih untuk berubah menjadi cahaya indah yang abadi saja, meski untuk entah siapapun nanti? Saranku, belajarlah untuk itu.. maka kamu akan menemukan kebahagiaan yang waktu itu kamu cari-cari, dengan sendirinya. Hahaha, jangan kaget begitu. Aku pernah menjadi pemberi standing applause dari penampilan menawanmu itu wahai pelangi, jadi aku mendalamimu. Aku tahu, kamu indah juga untuk bahagiamu sendiri, kan?

***

By the way, dont take it seriously. Untuk Januari semanis ini, dan blog yang terlalu usang hahaha aku hanya sedang ingin menulis apa yang aku pernah ingin tulis, serandom apapun, rajelas, dan.... sangat imaji sekali ya? Hehehe. Thanks sudah membaca.

Oh iya.. kalaupun dalam sehari-hari langit teman-teman benar sampai juga pada titik termendung, jangan hanya berharap pelangi, ya. Karena memang ada cahaya yang lebih nyata dan bukan hanya pembiasan, matahari misalnya. Iya kan? Ya walaupun matahari dan pelangi sama-sama punya batas waktu, sama-sama musiman, sih. Wkwkwkwkw....

Memori

10.8.17

Jangan lihat-lihat socmed saya, nanti hatimu banyak mbatin.
Jangan ngobrol-ngobrol dengan saya, nanti kamu banyak bingung.
Jangan chatting-chatting dengan saya, nanti sesuatu lain yang terbaca.
Jangan jalan seiring saya, nanti arahnya beda dari peta.

Ini aneh.

Beda.

Bukan yang lalu. Memang?

Kelihatannya, saya banyak kehilangan kenangan denganmu, dengannya, dengan mereka. Tentangmu, tentangnya, tentang mereka. Tentang kita. Semuanya.

Saya tak lagi tahu seberapa indahnya peristiwa yang pernah kita ukir, atau pahitnya keadaan yang mungkin pernah bersama-sama kita lalui. Semua hilang. Padahal saya tidak ada menghilangkan.

Saya mungkin tidak lupa, tapi kalau tidak ada bukti? Rasanya saya jadi tidak cukup bisa yakin dengan apa yang saya ingat.

Padahal banyak yang saya simpan. Banyak folder. Di dalam folder masih ada beberapa folder. Di dalamnya lagi masih ada folder. Di dalamnya lagi mungkin masih ada beberapa lapis folder. Banyak pokoknya. Ya tentang kamu, tentang dia, tentang mereka, tentang aku. Tentang kita.

Kehilangan sesuatu yang bisa kita ingat atau yang bisa mengingatkan mungkin akan banyak merubah kita, mungkin. Semua memang pasti akan berubah, sih. Tapi kalau masih ada ingatan itu.... mungkin akan ada batasan yang kasih petunjuk bagaimana kita akan berubah. Tapi kalau tidak ada? Mungkin kamu tahu sendiri persisnya bagaimana.

Waktu tahu bahwa saya benar-benar kehilangan ingatan, mungkin dari ujung ke ujung hanya sedih, sedih, dan sedih.

Saya harus tidak ingat dengan apa yang sudah disimpan bertahun-tahun. Yang seharusnya kelak bisa dikenang, jadi lenyap. Lalu besok-besok, apa yang mau diingat? Hmm.

Yang perlu diketahui adalah, saya sama sekali tidak menghilangkan, atau melupakan dengan sengaja. Apapun itu, dari dulu saya selalu menghargai memori sebaik yang saya bisa.

Hingga sampai pada waktunya memori harus pergi.

Anyway..... Saya kangen banget.

Kira-kira, ada cara agar HDD yang rusak masih mungkin dibaca lalu dibackup kah?😄😄😄😄

Unconsciousness

21.4.16


Unconsciousness one  




***

Siang ini aku terbawa angin. Mereka berhembus lembut beriringan namun pasti ke suatu arah. Dengan langkah sedikit ragu aku mengekor angin-angin itu. Tak kutanggalkan sweater dari tubuhku untuk melindungiku dari mereka.

Sudah satu jam aku mengikuti mereka. Tak kudapati jawaban dari pertanyaanku. Mau kemana mereka? Mereka terus menuntunku pada entah apa. Membuat aku melaju. Semakin kencang. Pada satu arah.

Aku takut namun mereka bilang aku harus tahu.

Tunggu..

Jadi mereka akan memberitahuku sesuatu?

Aku semakin bersemangat melanjutkan perjalananku. Hanya ingin tahu, apa maksud angin-angin itu. Belum lama aku menambah kecepatanku, warna langit berubah. Disertai suara gemuruh yang berdatangan dari berbagai penjuru.

Langkahku mereda. Seolah tau maksudku, salah satu angin bilang, aku tetap harus berjalan. Tanpa penolakan. Oke, dan kurasa aku tak punya kuasa untuk itu. Tak lama, bersama dengan gemuruh. Kumpulan air datang menyiramku.

Dingin.

Aku sempat ingin menyerah, aku bilang nanti kita sakit. Tetapi mereka bilang, aku tak akan sakit hanya karena air. Aku boleh tenang karena mereka bilang mereka menjagaku. Angin-angin itu tak akan membiarkanku sakit.

Pada jarak yang jauh dari langkah pertama, aku mulai mendapati suasana berbeda. Angin-angin itu membisikkan sesuatu padaku. Berusaha aku mendengarnya. Namun tak berhasil aku menangkap perkataannya. Aku dibuat bingung.

Samar-samar kudengar suara memilukan. Bukan suara angin. Aku mengenalinya. Sangat mengenalinya.

Tapi mustahil..

Sosok segarang itu tak mungkin menangis. Di tempat seperti ini bahkan.

Aku mendekat.

Benar saja.. Tubuh kecilnya mulai dapat terlihat dibalik kepulan asap yang angin bilang tak akan membuatku batuk.

"Keenan? Sedang apa kau di sini?" Aku segera menyapanya.

Sontak sosok itu menoleh ke arahku. Ia mengerutkan keningnya. Lalu membelalakkan mata sayunya. Seperti mendapat keajaiban melihat aku di sini. Matanya yang ternyata bengkak melihat bergantian ke wajahku, dan atasku, dan sampingku, dan sekelilingku.

"Tolong jangan hukum aku lagi, aku akan menuruti perintah kalian segera." Katanya ke entah apa, entah siapa. Tak kulihat siapapun di sini selain aku dan Keenan. Juga angin-angin itu.

"Apa maksudmu, Nan?"

Tanpa menjawab, Keenan segera mendekat ke arahku. Membuka telapak tangan di depannya. Ke arahku. Bersalaman?

Aku diam. Begitupun ia. Sampai sekarang Keenan memang belum mau kenal lagi denganku, oleh karenanya ia tak pernah bicara banyak denganku. Tapi ia mengajakku bersalaman, ajaib.

Kini aku yang bingung. Kupandangi kakinya yang tak jenjang. Lalu kaos hitamnya yang sangat aku kenal desainnya. Kurayapkan tatapan anehku pada seluruh bagiannya. Wajahnya memaling ke samping seperti tak mau melihat. Apa? Tak mau melihatku? Terserah karena aku tak akan mau membalas tangannya kalau ia bahkan tak melihatku.

Tapi aku penasaran. Kumiringkan kepalaku sedikit untuk melihat wajahnya. Wajah Keenan. Dan apa yang terjadi sungguh diluar perkiraanku. Butiran-butiran air terus terjun dari mata emeraldnya. Sadar kalau aku melihatnya, ia segera mengusap air matanya. Dengan tangan yang sudah lima menit tak mendapat jawaban.

"Tolong, hanya ini yang bisa membawaku kembali." Katanya parau sambil menyodorkan tangannya kembali, ke arahku.

***

"Kau lagi? Apa maksudmu? Bahkan aku tak mengenalmu. Bisa-bisanya kau mengatakan hal semacam itu. Kau sadar? Kau banyak menghancurkan hidupku. Kau tahu? Aku tak mengenalmu tapi kau sudah membuatku banyak membencimu. Orang yang sama sekali tak kuketahui."

Otakku seperti memutarkan adegan-adegan gila itu. Dan aku berhasil mengingatnya. Di mana aku datang menghampirinya pada suatu siang saat pulang sekolah. Waktu itu ia sedang berada di lapangan parkir, mengambil sepeda kesayangannya. Dengan berani aku mengucapkannya hingga siang itu berakhir dengan titikan air mataku.

"Happy birthday Keenan" Kataku waktu itu sambil menyodorkan tanganku. Yang kemudian diacuhkan olehnya. Sampai ia memakiku seperti itu. Aku heran terus kenapa Keenan seperti itu.

Keenan memang sangat membenciku. Ia selalu berfikir kalau tindakanku diluar batas.

Katanya, aku membuatnya enggan keluar dan itu mengakibatkan kelaparan. Ia bilang itu salahku. Katanya kalau ia keluar membeli makanan, ia akan bertemu denganku dan ia terganggu dengan itu.

Ia bilang aku sengaja berada di sekitarku. Katanya aku selalu muncul di setiap ia ada. Di kantin, di mading, di depan ruang kelas, di perpustakaan, di rumahnya bahkan. Di manapun. Keenan menuduh aku sengaja melakukannya.

Katanya, ia kehilangan kesempatan untuk menjadi kapten di team basket sekolahnya. Ia bilang itu semua gara-gara aku. Keenan menganggap kalau saja ia menduduki posisi itu pasti akan ada orang gila di barisan paling depan yang nantinya pasti selalu hadir di setiap pertandingannya. Dan itu akan mengganggu Keenan.

Katanya, ia tak pernah mendapatkan hati dari gadis pujaannya, dan lagi-lagi ia menyalahkanku. Ia bilang ia tak pernah mendapatkan balasan karena aku mengejar-ngejar Keenan. Ia bilang aku tak boleh menyukai Keenan, karena Keenan tak menyukaiku. Keenan menganggap, ia terkena karma. Gadis kesukaannya tak sedikitpun membalas perasaannya karena Keenan tak membalas perasaanku. Maka dari itu Keenan memaksaku melupakan rasaku ke Keenan, ia bilang, ia akan terhindar dari karma jika aku tak menyukai Keenan.

Dari situ aku mulai berfikir. Keenan bisa saja tidak waras. Mana bisa aku tak ada di setiapnya ada, kalau aku satu sekolah dengannya. Selalu satu kelas. Dari dulu hingga saat itu.

Mana bisa juga aku tak selalu ada tiap team basket impiannya sedang bertanding, aku ini Raisa, gadis garda depan team cheerleaders sekolahnya. Mana bisa aku tak ada bahkan di dekat rumahnya. Apa Keenan sungguh lupa, jarak rumahku ke rumah Keenan bahkan hanya dua rumah.

Dan yang terakhir ini seperti lelucon. Mana bisa Keenan menyuruhku untuk menghentikan rasaku ke Keenan? Rasa yang mana? Keenan gila untuk menuduhku menyukainya. Ya, kuakui memang aku sering berada di sekitar Keenan. Tapi apa Keenan buta untuk melihat, dengan siapa aku setiap bertemu dengannya.

Lalu bagaimana bisa Keenan memvonis dirinya kalau ia terkena karma, karena akupun tak seperti yang ia tuduhkan. Aku sama sekali tak memendam rasa seperti yang Keenan bilang. Meski ia tak menganggap, tapi aku ini masih temannya, tak lebih. Sampai sekarang aku tak mau berfikiran macam-macam pada temanku, termasuk mengharapkannya.

Ku kira, dia mempunyai masalah dengan kejiwaanya, terkhusus pada hal kepercayaan dirinya.

***

"Tapi Nan, bukankah kau bilang tanganmu akan alergi bahkan hanya dalam satu detik saja bila bersentuhan  denganku?" Kataku menyelidik. Sama sekali tak menggubris sodoran tangannya.

Gemuruh petir datang mengelilingi tempat misterius ini. Kupikir akan hujan lagi. Tapi tidak, hanya sekelompok angin datang lagi. Angin yang tadi. Fikirku.

Anehnya, kali ini mereka datang dengan formasi yang berbeda. Melingkar berputar kencang di satu pusat, seperti....

Tanpa sadar aku sudah ada di pusaran angin-angin itu bersamaan dengan teriakkan Keenan.

"Ra.. Mau ke mana kau? Jangan tinggalkan aku sendiri Ra. Ini kesempatanku yang terakhir Ra."

Aku terbang.

Dia terus berteriak. Makin lama-makin sayup karena jarak aku dan Keenan tak lagi dekat.

"Ra tolong Ra."

Makin lama suara Keenan makin tak terdengar. Aku bilang pada angin aku ingin menolongnya. Angin bilang mereka sudah memberi kesempatan pada  aku dan Keenan. Dan sekarang waktu kami habis.

"Raisaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"

Terlihat kecil, Keenan melompat-lompat. Tangannya terus melambai, mengayun, seperti meraih sesuatu. Mungkin mau meraihku kembali. Kata angin, tak akan bisa, Nan.

***

"Sepertinya, kau tak mau sedetikpun berpisah dengan Mbak Raisa ya, Mas? Kulihat sejak hari pertama kau terus mengikutinya. Hehe." Kata Pevita pada sosok berpelampung merah yang sedari tadi duduk di geladak.

"Biasa saja." Jawabnya terkekeh. Lalu membalikkan badan, membelakangi laut, membaur kembali bersama aku dan yang lain.

Pagi itu, aku kembali berada di belakang barisan para tim SAR. Kali ini dengan beberapa kapal kecil kami akan menuju ke pulau kecil di seberang sana, sesuai saran Pevita. Lebih tepatnya, sesuai mimpi Pevita.

Jadi, Keenan tak hanya datang di mimpiku? Ia datang juga di mimpi adiknya. Jangan-jangan ia datang juga di mimpi ibunya, ayahnya, kakaknya, dan siapapun. Sepertinya ia memang butuh pertolongan.

Yang pasti, ia datang juga di mimpi teman-temannya bahkan gadis kesukaannya itu, karena hari ini kulihat mereka sampai datang turut serta dengan kami. Ke tempat perkiraan kami yang terakhir. Harapan terakhir kami bisa menemukan Keenan kembali.

Ya, hari ini hari ke-lima sejak aku, dan yang lainnya menyusuri sungai, hingga berujung pada laut ini. Laut pun sudah diselami oleh tim SAR, untuk kemungkinan terburuk.

Tak didapati Keenan di sungai, di laut.

Kasian Keenan, lama sudah mungkin dia berkubang dalam air. Ibunya terus-terusan menyesalkan mengapa beliau tak memaksa Keenan untuk ikut dengan rombonganku, rombongan yang terakhir dievakuasi saat hujan deras mengguyur pemukiman kami. Pemukiman dengan resiko parah oleh luapan air sungai di ujung pemukiman kami yang waktu itu sudah berada pada level paling membahayakan.

Mungkin Keenan tak mau bergabung denganku. Hingga akhirnya ia terpaksa merelakkan tubuh mungilnya terbawa air bah yang datang tiba-tiba. Yang aku ingat, saat meninggalkan ia sendiri di rumahnya, pelampung warna biru masih setia menempel di badannya.

Harapanku satu, semoga Keenan baik-baik saja.

Di pulau kecil itu kami berhenti. Mulai beraksi. Mencari Keenan.

Pulau ini. Tempat ini. Aku benar-benar mengenali. Tempat semalamkah?

Lalu di mana Keenan?

Angin-angin itu lagi. Mereka datang lagi. Kami semua ketakutan. Mereka mengerikan. Angin itu kembali membentuk pusaran. Membangunkan trauma oleh peristiwaku semalam.

Angin itu menggugurkan daun-daun. Menumbangkan salah satu pohon. Menimbulkan kepulan asap dari tanah-tanah yang berterbangan.

Dari balik kalutnya suasana saat itu, kulihat sesuatu jatuh bersama pohon yang tumbang. Manusia. Ia tergeletak tak berdaya.  

Benar.
Mimpiku, mimpi Pevita, dan mungkin saja mimpi-mimpi banyak orang,  benar.

Di depanku kini, ia tergolek lemah. Bonyok. Pucat. Layu. Mungkin ini sudah kelaparan, kesakitan, kedinginan, dan kehancuran Keenan yang kesekian kalinya akibat ulahku.

Keenan..
Temanku, sadarlah.

***

Di bawah merekahnya sinar mentari, kami naiki sepeda kami masing-masing. Aku dan Keenan berlomba-lomba untuk lebih dulu sampai ke sekolah layaknya anak kecil. Sudah lama aku tak sebahagia ini, bersama temanku yang satu ini.

Sungguh, enam tahun dimusuhi tanpa alasan oleh Keenan benar-benar memicu kehilangan-kehilanganku yang lainnya. Sekarang, semoga aku dan Keenan akan benar-benar kembali seperti dulu, bersahabat kembali seperti belasan tahun lalu, mewujudkan mimpi bersama-sama lagi.

"Ra, aku minta maaf untuk semua kesalahanku."

"Iya Nan. Aku yang harus lebih banyak minta maaf padamu."

Dua kelingking kami saling bertautan.
Dalam hati aku berjanji, untuk terus menjaga Keenan, melindunginya. Tak akan kubiarkan angin-angin itu menghukum Keenan lagi, mengadu kami seperti waktu itu.

Tetapi terimakasih angin, sekarang aku sudah sadar, begitupun Keenan.

***

2015 Best Closing

30.12.15



Di penghujung tahun 2015 ini kelas tiganya sekolah aku emang disibukkan banget sama agenda yang satu ini. Yup, aku mungkin belum pernah secara jelas cerita di blog ini, kalo aku anak mana gitu😄, dan udah selama 2 setengah tahun ini menghabiskan waktuku menuntut ilmu di sekolah ini. (baca: aku siswa semester 4,5 di esemka, yang lagi prakerin.)

Tapi kayanya rata-rata viewers blog aku ini traffictnya dari twitter, facebook, atau socmed-socmed lain aku sih ya, jadi informasi di atas pasti udah nggak penting banget.

Tentang itu.......

Terhitung mulai 5 Oktober kemarin sampai 31 Desember ini nih, siklus hidup aku sedikit berubah. Daily route berubah. Dll. Banyak yang berubah.

Selama 3 bulan ini, bukan jalan wates super panjang nan ekstrim yang aku lewati. Melainkan jalanan-10-menit-nyampe-nya anak-anak belakang Fe***n. Yang emang kudu cuma jalan kaki. Hiks

Yhaaaa, fyi.. Kebetulan aku dapetnya di tempat f****s* yang lokasinya aja.......bukan di Jogja. :((( Jadi 3 bulan ini aku latihan jadi anak kosan. Hahaha asem kok. Cuma di belakangnya sih. Jadi rutenya ya, tinggal menyusuri jalan-jalan pemukiman sekitar kawasan, yang sama aja kaya muterin itu bangunan. Capek lah, wong jalan.

Sedikit cerita, udah hampir 3 bulanan aku di sini. Dan ya cuma begini terus. Jam 7.30 berangkat. Jam 7.40 nyampe. Loker pasti udah penuh sesak, karena barengan nyampenya sama rombongan jemputan mas-mba karyawan yang dari jauh-jauh. Terus ngeliat-liat pemandangan di loker. Heh, apasih. Gakjelas banget. Wakakak. Ganti baju, prepare, sama otw itu bisa......yhaa pokoknya nyampe di lab bisa jam 8.15 pas.

Parah banget emang.

Emang, emang parah. Separah ekspresi aku waktu ada mbak-mbak bilang sama aku di hari pertama kalo aku ditempatin di m*kr*. 

Oh..
S.......
Paan nih...
Ah.....
Please.. 

Siapa sih yang gapaham kalo dari aku dapet dasarnya pas kelas satu sampe dua berturut-turut, terus dapet praktikumnya di kelas dua, itu.. nggak excited banget sama ini mapel.

Padahal kalo ada temen aku yang teliti, pasti akan ngetawain aku, karena dia pasti masih inget waktu aku bilang “Aku emoh ning tempat-tempat ***. ****** koyo s**u dll, mesti ono m*kr*ne, dan aku mesti berkemungkinan masuk m*kr*, rapopolah f****s* aja, biar k***a banget.” Dengan cluelessnya aku ngomong gitu.

Dan nggak kepikiran sama sekali pola ini : f****si kan o**t---o**t kan st*ril---st*ril kan hmmmmmmm gausah dilanjutin, ga penting lah

Asem, kenapa aku nggak mikir sampe segitu ya, wkwkwkw. Lucuuuuu aku emang.
Tapi yaudah deh nggakpapa.

Kan great things never came from comfort zones. Mungkin dari tempat aku latihan ini, ada hal baik yang bisa aku pelajari. Dan bakal menyadarkan aku. Ngebukain mata aku, kalo m*kr* nggak se.... hhhh (aku sendiri juga nggatau menurut aku m*kr* gimana, yang ada aku nggak seneng aja udah.) Dan nggak ada alasan buat aku untuk nggak suka m*kr* kedepannya, karena gimana-gimana juga m*kr****l*g* emang bisa dibilang pernah jadi bagian dari hidup uwe juga. Halah. Hahahah

Yha oke. Kapan-kapan aku cerita lebih rinci tentang pengalaman nano-nanoku latihan di sini. 

Wakakak. 

Sekian.

Rth.

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS