***
Siang ini aku terbawa angin.
Mereka berhembus lembut beriringan namun pasti ke suatu arah. Dengan langkah
sedikit ragu aku mengekor angin-angin itu. Tak kutanggalkan sweater dari
tubuhku untuk melindungiku dari mereka.
Sudah satu jam aku mengikuti
mereka. Tak kudapati jawaban dari pertanyaanku. Mau kemana mereka? Mereka terus
menuntunku pada entah apa. Membuat aku melaju. Semakin kencang. Pada satu arah.
Aku takut namun mereka bilang
aku harus tahu.
Tunggu..
Jadi mereka akan
memberitahuku sesuatu?
Aku semakin bersemangat melanjutkan
perjalananku. Hanya ingin tahu, apa maksud angin-angin itu. Belum lama aku
menambah kecepatanku, warna langit berubah. Disertai suara gemuruh yang
berdatangan dari berbagai penjuru.
Langkahku mereda. Seolah tau
maksudku, salah satu angin bilang, aku tetap harus berjalan. Tanpa penolakan.
Oke, dan kurasa aku tak punya kuasa untuk itu. Tak lama, bersama dengan
gemuruh. Kumpulan air datang menyiramku.
Dingin.
Aku sempat ingin menyerah,
aku bilang nanti kita sakit. Tetapi mereka bilang, aku tak akan sakit hanya
karena air. Aku boleh tenang karena mereka bilang mereka menjagaku. Angin-angin
itu tak akan membiarkanku sakit.
Pada jarak yang jauh dari langkah
pertama, aku mulai mendapati suasana berbeda. Angin-angin itu membisikkan
sesuatu padaku. Berusaha aku mendengarnya. Namun tak berhasil aku menangkap
perkataannya. Aku dibuat bingung.
Samar-samar kudengar suara
memilukan. Bukan suara angin. Aku mengenalinya. Sangat mengenalinya.
Tapi mustahil..
Sosok segarang itu tak
mungkin menangis. Di tempat seperti ini bahkan.
Aku mendekat.
Benar saja.. Tubuh kecilnya
mulai dapat terlihat dibalik kepulan asap yang angin bilang tak akan membuatku
batuk.
"Keenan? Sedang apa kau
di sini?" Aku segera menyapanya.
Sontak sosok itu menoleh ke arahku.
Ia mengerutkan keningnya. Lalu membelalakkan mata sayunya. Seperti mendapat
keajaiban melihat aku di sini. Matanya yang ternyata bengkak melihat bergantian
ke wajahku, dan atasku, dan sampingku, dan sekelilingku.
"Tolong jangan hukum aku
lagi, aku akan menuruti perintah kalian segera." Katanya ke entah apa,
entah siapa. Tak kulihat siapapun di sini selain aku dan Keenan. Juga
angin-angin itu.
"Apa maksudmu,
Nan?"
Tanpa menjawab, Keenan segera
mendekat ke arahku. Membuka telapak tangan di depannya. Ke arahku. Bersalaman?
Aku diam. Begitupun ia. Sampai
sekarang Keenan memang belum mau kenal lagi denganku, oleh karenanya ia tak
pernah bicara banyak denganku. Tapi ia mengajakku bersalaman, ajaib.
Kini aku yang bingung.
Kupandangi kakinya yang tak jenjang. Lalu kaos hitamnya yang sangat aku kenal
desainnya. Kurayapkan tatapan anehku pada seluruh bagiannya. Wajahnya memaling ke samping
seperti tak mau melihat. Apa? Tak mau melihatku? Terserah karena aku tak akan
mau membalas tangannya kalau ia bahkan tak melihatku.
Tapi aku penasaran.
Kumiringkan kepalaku sedikit untuk melihat wajahnya. Wajah Keenan. Dan apa yang
terjadi sungguh diluar perkiraanku. Butiran-butiran air terus terjun dari mata emeraldnya. Sadar kalau aku melihatnya,
ia segera mengusap air matanya. Dengan tangan yang sudah lima menit tak
mendapat jawaban.
"Tolong, hanya ini yang
bisa membawaku kembali." Katanya parau sambil menyodorkan tangannya
kembali, ke arahku.
***
"Kau lagi? Apa maksudmu?
Bahkan aku tak mengenalmu. Bisa-bisanya kau mengatakan hal semacam itu. Kau
sadar? Kau banyak menghancurkan hidupku. Kau tahu? Aku tak mengenalmu tapi kau
sudah membuatku banyak membencimu. Orang yang sama sekali tak kuketahui."
Otakku seperti memutarkan
adegan-adegan gila itu. Dan aku berhasil mengingatnya. Di mana aku datang
menghampirinya pada suatu siang saat pulang sekolah. Waktu itu ia sedang berada
di lapangan parkir, mengambil sepeda kesayangannya. Dengan berani aku mengucapkannya
hingga siang itu berakhir dengan titikan air mataku.
"Happy birthday
Keenan" Kataku waktu itu sambil menyodorkan tanganku. Yang kemudian
diacuhkan olehnya. Sampai ia memakiku seperti itu. Aku heran terus kenapa
Keenan seperti itu.
Keenan memang sangat
membenciku. Ia selalu berfikir kalau tindakanku diluar batas.
Katanya, aku membuatnya
enggan keluar dan itu mengakibatkan kelaparan. Ia bilang itu salahku. Katanya
kalau ia keluar membeli makanan, ia akan bertemu denganku dan ia terganggu
dengan itu.
Ia bilang aku sengaja berada
di sekitarku. Katanya aku selalu muncul di setiap ia ada. Di kantin, di mading,
di depan ruang kelas, di perpustakaan, di rumahnya bahkan. Di manapun. Keenan
menuduh aku sengaja melakukannya.
Katanya, ia kehilangan
kesempatan untuk menjadi kapten di team basket sekolahnya. Ia bilang itu semua
gara-gara aku. Keenan menganggap kalau saja ia menduduki posisi itu pasti akan
ada orang gila di barisan paling depan yang nantinya pasti selalu hadir di
setiap pertandingannya. Dan itu akan mengganggu Keenan.
Katanya, ia tak pernah
mendapatkan hati dari gadis pujaannya, dan lagi-lagi ia menyalahkanku. Ia
bilang ia tak pernah mendapatkan balasan karena aku mengejar-ngejar Keenan. Ia
bilang aku tak boleh menyukai Keenan, karena Keenan tak menyukaiku. Keenan menganggap, ia terkena
karma. Gadis kesukaannya tak sedikitpun membalas perasaannya karena Keenan tak
membalas perasaanku. Maka dari itu Keenan memaksaku melupakan rasaku ke Keenan,
ia bilang, ia akan terhindar dari karma jika aku tak menyukai Keenan.
Dari situ aku mulai berfikir.
Keenan bisa saja tidak waras. Mana bisa aku tak ada di setiapnya ada, kalau aku
satu sekolah dengannya. Selalu satu kelas. Dari dulu hingga saat itu.
Mana bisa juga aku tak selalu
ada tiap team basket impiannya sedang bertanding, aku ini Raisa, gadis garda
depan team cheerleaders sekolahnya. Mana bisa aku tak ada bahkan
di dekat rumahnya. Apa Keenan sungguh lupa, jarak rumahku ke rumah Keenan
bahkan hanya dua rumah.
Dan yang terakhir ini seperti
lelucon. Mana bisa Keenan menyuruhku untuk menghentikan rasaku ke Keenan? Rasa
yang mana? Keenan gila untuk menuduhku menyukainya. Ya, kuakui memang aku sering
berada di sekitar Keenan. Tapi apa Keenan buta untuk melihat, dengan siapa aku
setiap bertemu dengannya.
Lalu bagaimana bisa Keenan
memvonis dirinya kalau ia terkena karma, karena akupun tak seperti yang ia
tuduhkan. Aku sama sekali tak memendam rasa seperti yang Keenan bilang. Meski ia tak menganggap, tapi
aku ini masih temannya, tak lebih. Sampai sekarang aku tak mau berfikiran
macam-macam pada temanku, termasuk mengharapkannya.
Ku kira, dia mempunyai
masalah dengan kejiwaanya, terkhusus pada hal kepercayaan dirinya.
***
"Tapi Nan, bukankah kau
bilang tanganmu akan alergi bahkan hanya dalam satu detik saja bila bersentuhan
denganku?" Kataku menyelidik. Sama
sekali tak menggubris sodoran tangannya.
Gemuruh petir datang
mengelilingi tempat misterius ini. Kupikir akan hujan lagi. Tapi tidak, hanya
sekelompok angin datang lagi. Angin yang tadi. Fikirku.
Anehnya, kali ini mereka
datang dengan formasi yang berbeda. Melingkar berputar kencang di satu pusat,
seperti....
Tanpa sadar aku sudah ada di
pusaran angin-angin itu bersamaan dengan teriakkan Keenan.
"Ra.. Mau ke mana kau?
Jangan tinggalkan aku sendiri Ra. Ini kesempatanku yang terakhir Ra."
Aku terbang.
Dia terus berteriak. Makin
lama-makin sayup karena jarak aku dan Keenan tak lagi dekat.
"Ra tolong Ra."
Makin lama suara Keenan makin
tak terdengar. Aku bilang pada angin aku ingin menolongnya. Angin bilang mereka
sudah memberi kesempatan pada aku dan
Keenan. Dan sekarang waktu kami habis.
"Raisaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"
Terlihat kecil, Keenan
melompat-lompat. Tangannya terus melambai, mengayun, seperti meraih sesuatu.
Mungkin mau meraihku kembali. Kata angin, tak akan bisa, Nan.
***
"Sepertinya, kau tak mau
sedetikpun berpisah dengan Mbak Raisa ya, Mas? Kulihat sejak hari pertama kau
terus mengikutinya. Hehe." Kata Pevita pada sosok berpelampung merah yang sedari
tadi duduk di geladak.
"Biasa saja."
Jawabnya terkekeh. Lalu membalikkan badan, membelakangi laut, membaur kembali
bersama aku dan yang lain.
Pagi itu, aku kembali berada
di belakang barisan para tim SAR. Kali ini dengan beberapa kapal kecil kami
akan menuju ke pulau kecil di seberang sana, sesuai saran Pevita. Lebih
tepatnya, sesuai mimpi Pevita.
Jadi, Keenan tak hanya datang
di mimpiku? Ia datang juga di mimpi adiknya. Jangan-jangan ia datang juga di
mimpi ibunya, ayahnya, kakaknya, dan siapapun. Sepertinya ia memang butuh
pertolongan.
Yang pasti, ia datang juga di
mimpi teman-temannya bahkan gadis kesukaannya itu, karena hari ini kulihat mereka
sampai datang turut serta dengan kami. Ke tempat perkiraan kami yang terakhir.
Harapan terakhir kami bisa menemukan Keenan kembali.
Ya, hari ini hari ke-lima
sejak aku, dan yang lainnya menyusuri sungai, hingga berujung pada laut ini.
Laut pun sudah diselami oleh tim SAR, untuk kemungkinan terburuk.
Tak didapati Keenan di
sungai, di laut.
Kasian Keenan, lama sudah
mungkin dia berkubang dalam air. Ibunya terus-terusan menyesalkan mengapa
beliau tak memaksa Keenan untuk ikut dengan rombonganku, rombongan yang
terakhir dievakuasi saat hujan deras mengguyur pemukiman kami. Pemukiman dengan
resiko parah oleh luapan air sungai di ujung pemukiman kami yang waktu itu
sudah berada pada level paling membahayakan.
Mungkin Keenan tak mau
bergabung denganku. Hingga akhirnya ia terpaksa merelakkan tubuh mungilnya terbawa
air bah yang datang tiba-tiba. Yang aku ingat, saat meninggalkan ia sendiri di
rumahnya, pelampung warna biru masih setia menempel di badannya.
Harapanku satu, semoga Keenan
baik-baik saja.
Di pulau kecil itu kami berhenti.
Mulai beraksi. Mencari Keenan.
Pulau ini. Tempat ini. Aku benar-benar
mengenali. Tempat semalamkah?
Lalu di mana Keenan?
Angin-angin itu lagi. Mereka
datang lagi. Kami semua ketakutan. Mereka mengerikan. Angin itu kembali
membentuk pusaran. Membangunkan trauma oleh peristiwaku semalam.
Angin itu menggugurkan
daun-daun. Menumbangkan salah satu pohon. Menimbulkan kepulan asap dari
tanah-tanah yang berterbangan.
Dari balik kalutnya suasana
saat itu, kulihat sesuatu jatuh bersama pohon yang tumbang. Manusia. Ia tergeletak
tak berdaya.
Benar.
Mimpiku, mimpi Pevita, dan
mungkin saja mimpi-mimpi banyak orang,
benar.
Di depanku kini, ia tergolek
lemah. Bonyok. Pucat. Layu. Mungkin ini sudah kelaparan, kesakitan, kedinginan,
dan kehancuran Keenan yang kesekian kalinya akibat ulahku.
Keenan..
Temanku, sadarlah.
***
Di bawah merekahnya sinar
mentari, kami naiki sepeda kami masing-masing. Aku dan Keenan berlomba-lomba
untuk lebih dulu sampai ke sekolah layaknya anak kecil. Sudah lama aku tak
sebahagia ini, bersama temanku yang satu ini.
Sungguh, enam tahun dimusuhi tanpa
alasan oleh Keenan benar-benar memicu kehilangan-kehilanganku yang lainnya. Sekarang,
semoga aku dan Keenan akan benar-benar kembali seperti dulu, bersahabat kembali
seperti belasan tahun lalu, mewujudkan mimpi bersama-sama lagi.
"Ra, aku minta maaf
untuk semua kesalahanku."
"Iya Nan. Aku yang harus
lebih banyak minta maaf padamu."
Dua kelingking kami saling
bertautan.
Dalam hati aku berjanji,
untuk terus menjaga Keenan, melindunginya. Tak akan kubiarkan angin-angin itu menghukum
Keenan lagi, mengadu kami seperti waktu itu.
Tetapi terimakasih angin,
sekarang aku sudah sadar, begitupun Keenan.
***